Selasa, 22 Januari 2013

Seutas Tali Harapan - 3


Dewi
Udara dingin menusuk hingga terasa sampai ke tulang. Jaket tebal pun tak mampu menahan udara dingin yang terus menusuk. Sudah tiga hari aku sakit. Dan tidak ikut dalam mencari informasi tentang Nadine. Hujan deras mengguyur Jakarta, sangat tidak mungkin jika ada yang berkunjung saat hujan begini. Tapi sedari tadi, bel rumah ku berbunyi. Dengan sekuat tenaga, aku membawa tubuh ku untuk berjalan membuka pintu. Perlahan pintu ku terbuka, mata ku terbelalak melihat kedatangannya..

Senin, 21 Januari 2013

Seutas Tali Harapan - 2


Bel pulang sekolah pun berbunyi. Kepala ku terasa pusing sekali. Dengan segera aku berlari kearah toilet, berharap tidak ada yang mengikutiku.
“Nadine kenapa?” tanya Ridho khawatir pada Dewi. Tapi Dewi hanya menggeleng pelan. “Wajahnya pucat banget, dari tadi juga dia keringatan. Kita harus susul dia! Gue takut dia kenapa-kenapa.” ajak Ridho pada Dewi.
“Emm.. jangan, Nadine kayaknya gak mau diganggu dulu. Tunggu dia cerita aja ya?” jawab Dewi pelan.

Seutas Tali Harapan



Sebenernya Cerpen ini gue buat waktu gue duduk dikelas VIII. Tapi, berhubung gue baru bikin blog sekarang.. jadi baru gue share sekarang deh. Selamat membaca, dan please komennya..

“ Hidup akan terasa indah, jika kita bisa mensyukuri apapun yang kita punya. Tapi, hidup akan terasa resah, jika kita hanya bisa menginginkan apapun yang orang lain punya.”

-Remember-

...........

                Sinar matahari yang terik, tepat menyusup masuk melewati jendela sebuah ruangan besar bercat putih serta dilengkapi barang-barang berwarna putih. Tidak ada satu orang pun yang mau ditakdirkan menjadi penghuni ruangan itu. Walau tempatnya terlihat nyaman, tetapi cukup membuat orang tak kuasa menahan air mata kesedihan, terikkan histeris, dan berbagai rasa yang menyayat hati dapat dialami. Berbagai teknologi canggih menghiasi meja berukuran sedang yang selalu setia berada disamping ranjang.